Senin, 20 Januari 2014

HIKMAH SEBOTOL AIR MINERAL

Jika kita menolong dengan ikhlas pasti Allah akan membalasnya lebih dari yang kita bayangkan

Pertemuan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan kebetulan? Aku rasa tak ada yang kebetulan di dunia ini. Inilah cuplikan kisah nyata yang aku alami sendiri, Semoga bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya oleh para pembaca.
Seharian masih berkutat dengan aktivitas kampus yang memaksaku pulang hingga sore hari. Tak masalah bagiku jika itu hari-hari biasa tapi ini H-1 Idul adha dan aku harus pulang ke kampung halamanku hari itu juga. Sial.. jarum jam  tangan  yang aku kenakan seolah berputar lebih cepat dibanding hari-hari sebelumnya. Dengan berbekal barang seadanya yang ada di dalam tas, aku buru-buru pulang ke kampung halamanku. Tas punggung  pink masih setia menemani perjalanan pulangku tanpa aku cek terlebih dahulu apakah ada barang tertinggal yang belum aku masukkan ke tas atau barang yang harus aku tinggal agar tak terlalu berat aku membawanya.
Perjalanan aku mulai dengan naik angkot, cukup lama aku menunggu angkot lewat tapi beruntung da satu angkot yang lewat. Tanpa pikir panjang akupun menaiki angkot itu. Setengah perjalanan aku mulai resah karena jalan yang dilalui nggag seperti biasanya. Astagaa.. ternyata angkot yang aku naikin beda jurusan. Hanya bisa pasrah dan berharap diberi petunjuk..(Amin..). Akhirnya ada sedikit angin segar yang mampu sedikit membuatku tenang, terdengar salah satu penumpang menanyakan tempat yang aku tuju dan sopirnya mengiyakan kalau pemberhentian terakhir memang ditempat yang aku tuju.
Setelah sekian lama berada di dalam angkot akhirnya aku sampai di tepat dimana aku menunggu bus yang akan menuju ke kota tempat tinggalku. Langit semakin gelap dan tak ada satupun bus yang lewat. Banyak juga orang-orang yang berdiri menunggu datangnya bus. Diantara orang-orang yang pada berdiri menunggu bus, mataku tiba-tiba mengarah pada seorang gadis berjilbab orange kira-kira seumuran denganku yang terlihat gelisah dan sibuk dengan Hpnya. Aku coba mendekat dan mengajaknya ngobrol. Dari perbincangan singkat itu aku jadi tau kalau ternyata dia bernama Wina seorang mahasiswi baru jurusan kedokteran gigi di salah satu universitas swasta di Semarang. Pantas saja dia terlihat gelisah karena biasanya dia dijempul oleh orang tuanya dan baru kali ini dia pulang sendirian.
Adzan magribpun telah berkumandang, tinggal kami berdua dan beberapa orang yang masih menunggu bus karena ada yang nekat nebeng truk agar bisa sampai ke tempat tujuan.
“Maaf..mbak puasa?” Tanya Wina
“Aku lagi halangan jadi nggag puasa, ini ada minum untuk membatalkan puasa.”  Jawabku sambil menawarkan sebotol air mineral yang belum sempat aku minum saat beli dikampus.
“Iya makasih mbak”
Kami masih berdiri menunggu bus lewat yang entah kapan datangnya. Terdengar alunan takbir berkumandang membuat aku semakin ingin cepat sampai di kampung halaman bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha bersama. Masih terlihat muka Wina yang cemas. Berkali-kali orang tuanya menelfon Wina untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja. Bahkan ortunya sempat pengen ngobrol ma aku agar menjaga dan menemani anaknya. Setelah berjam-jam menunggu akhirnya ada bus yang berhenti, meskipun bus itu sudah tak mampu lagi menampung orang yang berjubel tapi aku,wina dan penumpang lain tetap nekat menaiki bus tersebut. Walhasil kami hanya bisa berdiri didalam bus.
Meskipun sudah berada dalam bus namun aku agak cemas karena perjalananku nggag sampai disini saja. Aku harus turun diterminal dan pindah naik angkot. Padahal angkot yang menuju rumahku hanya ada sampai jam 5 sore. Aku mencoba menenangkan diri dan menghubungi orang tuaku agar di jemput diterminal. Ternyata aku lupa mengisi pulsa Hpku dan Hpku lowbet. Sialnya ditengah perjalanan Hpku mati dan aku nggag hafal nomor orangtuaku. Aku hanya pasrah entah ide gila apa yang akan muncul dalam otakku.
Akhirnya aku dan Wina sampai di terminal, terlihat kedua orang tua Wina sudah menunggu diluar mobil. Cukup senang melihat Wina sudah bertemu dengan orang tuanya yang artinya aku juga sudah selesai menjalankan tugasku untuk menjaga wina. Tapi.... gimana dengan nasibku? Jarak terminal dengan rumah masih sangat jauh.
“Makasih ya mbak sudah nemenin aku, mbak sudah dijemput?”
“Su..suu..sudah” (aku bingung entah siapa yang akan menjemputku)
“Saya anter aja ya dek, sudah malam” mamah Wina mencoba mengajakku
“Iya mbak ayo bareng aku aja pulangnya” tambah Wina
Akhirnya aku diantar oleh orangtuanya Wina sampai kerumah, diperjalanan sempat ngobrol panjang lebar dengan mamah dan papahnya Wina. Aku menemukan keluarga baru dan sahabat semalam heheheh....
Alhamdulillah Ya Allah.. dengan peristiwa itu aku belajar tentang keikhlasan “Allah Tidak Memandang Amalan Yang Banyak Tetapi Amalan Yang Ikhlas”



0 komentar:

Posting Komentar