Jumat, 30 Mei 2014
Teka Teki Virus Merah Jambu
Tak
bisa dipungkiri saat hati berbicara selalu ada kisah baru yang hadir menghiasi
hidup kita. Lagi-lagi suara hati ini beradu dengan kenyataan, apakah aku salah
jika menaruh rasa dengannya? Bukankah cinta itu anugrah dari Sang Maha Cinta
yaitu Allah? Sesungguhnya aku tak ingin mencintai seseorang melebihi cintaku kepada Allah. Entah mengapa
aku mulai bertanya pada diriku sendiri apa itu cinta dan ingin tau lebih banyak
tentang cinta. Apakah cinta sama halnya dengan suara hati ini yang kian hari
terasa menyesakkan dada? Akupun tak tahu sejak kapan merasakan perubahan
gejolak hati yang semakin meletup-letup. Aku tahu kita mencinta atau memberi
siapa saja dan apa saja itu semua karena Allah.Tapi kenapa wajah itu, senyum
itu, selalu terbayang dalam ingatanku, perangainya yang wibawa tapi tetap
memancarkan kelembutan, santun perkataanya, ramah terhadap sesama, jiwa
penolong yang sepertinya sudah melekat dalam dirinya. Aku takut rasa ini
membuatku jauh dariMU, Yaa Allah maafkan aku dengan segala rasaku ini. Aku tak
tau harus kepada siapa ku mengadu tentang virus merah jambu yang kian hari kian
menyesakkan qalbu. ku hanya mampu menengadahkan kedua tangan disepertiga malamMU.
Sesekali ku coba menyeka air mata yang tak hentinya mengalir membasahi pipiku
yang tak kuasa menahan teka teki hati yang tak mampu ku pecahkan. Jika sosok
itulah yang engkau pilihkan untukku, jagalah rasaku dan rasanya agar tetap
istiqomah dijalanmu hingga suatu saat Engkau menyatukan kami di jalan yang
telah Engaku ridhoi. Amin..
Cermin Kelam
“Nduk
cariin suratnya ada di tumpukan lemari paling atas...”
Tumpukan
map berisi kertas yang warnanya mulai usang , bau yang tidak sedap menandakan
umur tumpukan kertas itu sudah bertahun-tahun lamanya. Debu yang dari awal
mengusik bulu-bulu hidung untuk bekerja lebih ekstra menyaring kotoran membuatku
bersin berkali lipat dari biasanya.
“Nduk
sudah ketemu suratnya?”
Lamat-lamat
terdengar suara lembut dari ruang tamu untuk memastikan apakah aku sudah menemukan
apa yang beliau inginkan. Ahhh..seandainya saja surat itu nggag dibutuhkan
sekali oleh ibu, enggan sekali rasanya membuka lemari yang hanya berisi
tumpukan kertas yang entah sejak kapan berada disini atau mungkin sudah ada
sebelum aku dilahirkan. Satu persatu map yang berisi tumpukan kertas ku
turunkan dari lemari agar aku lebih mudah mencarinya. Satu.. Dua.. Lima..
Tujuh.. ahhh.. sudah tujuh map yang aku turunkan tapi tak ada satupun yang di
dalamnya berisi surat yang aku cari.
Entah
bisikan apa yang membuat bola mataku melirik amplop besar warna coklat yang
berada di tumpukan paling bawah. Seolah amplop
coklat itu menghipnotisku melupakan tujuan utama mencari surat untuk ibu.
Perlahan kucoba menariknya agar tumpukan diatasnya tak jatuh berserakan. Baru
setengah aku menariknya terpampang tulisan RS. Mardi**** CT Scan Torax. Tulisan itu seolah membawaku ke lorong waktu yang
sebenarnya sangat aku benci. Dengan sedikit tenaga ekstra ku tarik amplop
coklat yang berjumlah 12 buah dengan tulisan yang sama. Tanganku kelu, lemas,
gemetaran saat membuka amplop dan melihat isinya.
Ya
Allah apakah ini cermin hidupku?
Apakah
ini teguran bagiku yang melupakan nikmat yang telah engkau berikan setelah
waktu itu?
Iyaa...waktu
itu...!!! saat itu...!!!
Waktu..
dimana semua impianku meredup seperti nyala api lilin yang semakin berkurang,
tak ada semangat. Impian seorang anak muda yang seolah harus terhenti karena
fonis penyakit yang selama ini tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Seketika
membuat hidupku kosong tak tau arah.
Saat..
masa muda yang penuh keceriaan harus ku lalui dalam belenggu rumah sakit, obat,
suntikan di sekujur tubuh, keluar masuk ruang radiologi.
Apakah
ini caraMU mengingtkanku Ya Allah?
Mengingatkan
betapa berharganya kesempatan setiap tarikan nafas yang telah engkau berikan
setelah virus putus asa hampir memenuhi batinku seperti penyakit yang memenuhi
ragaku.
Tapi
dibalik itu semua aku sadar, inilah cerminku, cermin dimasa kelam yang
membuatku sadar aku bukanlah apa-apa tanpaMU, inilah aku yang sekarang, aku
dengan segala anugerah terindah yang telah Engkau berikan kepadaku. Aku mampu
dengan segala kelemahanku, aku bisa dengan segala kekuranganku, aku tetap yakin
dengan segala keterbatasanku karena aku tau Engkau selalu bersamaku. Engkaulah
Sang Pemberi Nikmat di Alam Semesta ini
Kamis, 22 Mei 2014
Rasa Dalam Diam
Aku
sangat tau bisik dalam kalbuku
Cukuplah
aku yang tau dan hanya aku
Rasa
yang mulai tumbuh kala itu
Cukuplah
aku yang tau dan hanya aku
Aku
lebih memilih diam
Bukan
berarti aku takut
Bukan
berarti aku pengecut
Menjaga
rasaku, rasamu bahkan mungkin rasa mereka
Mereka
yang menaruh rasa yang sama denganku
Biarlah
semua menjadi seperti ini
Entah
sampai kapan akupun tak tau
Yang
pasti tidak sekarang sebab
Tidak
semua perasaan harus dikatakan sekarang juga
Rindu kekasihku
Teruntuk
yang aku rindu
Masih
adakah waktu untukku berjumpa?
Tak
sabar ku menunggu kehadiranmu
Kekasihku..
damainya jiwaku saat bersamamu
Aku
menunggumu selalu dan selalu
Kekasihku..
kehadiranmu bagai embun penyejuk kalbu
Coretan
merah di angka yang tertera di kalender itulah saksi bisu
Semakin
dekat waktu perjumpaanku denganmu
Kekasihku..
aku takut bilamana Tuhan tak mengijinkanku menyambut kedatanganmu
Andai
Tuhan mengijinkan, aku selalu ingin bersamamu RAMADHANKU..
Langganan:
Postingan (Atom)





