Jumat, 30 Mei 2014

Cermin Kelam

“Nduk cariin suratnya ada di tumpukan lemari paling atas...”
Tumpukan map berisi kertas yang warnanya mulai usang , bau yang tidak sedap menandakan umur tumpukan kertas itu sudah bertahun-tahun lamanya. Debu yang dari awal mengusik bulu-bulu hidung untuk bekerja lebih ekstra menyaring kotoran membuatku bersin berkali lipat dari biasanya.
“Nduk sudah ketemu suratnya?”
Lamat-lamat terdengar suara lembut dari ruang tamu untuk memastikan apakah aku sudah menemukan apa yang beliau inginkan. Ahhh..seandainya saja surat itu nggag dibutuhkan sekali oleh ibu, enggan sekali rasanya membuka lemari yang hanya berisi tumpukan kertas yang entah sejak kapan berada disini atau mungkin sudah ada sebelum aku dilahirkan. Satu persatu map yang berisi tumpukan kertas ku turunkan dari lemari agar aku lebih mudah mencarinya. Satu.. Dua.. Lima.. Tujuh.. ahhh.. sudah tujuh map yang aku turunkan tapi tak ada satupun yang di dalamnya berisi surat yang aku cari.
Entah bisikan apa yang membuat bola mataku melirik amplop besar warna coklat yang berada di tumpukan paling bawah. Seolah  amplop coklat itu menghipnotisku melupakan tujuan utama mencari surat untuk ibu. Perlahan kucoba menariknya agar tumpukan diatasnya tak jatuh berserakan. Baru setengah aku menariknya terpampang tulisan RS. Mardi**** CT Scan Torax. Tulisan itu seolah membawaku ke lorong waktu yang sebenarnya sangat aku benci. Dengan sedikit tenaga ekstra ku tarik amplop coklat yang berjumlah 12 buah dengan tulisan yang sama. Tanganku kelu, lemas, gemetaran saat membuka amplop dan melihat isinya.
Ya Allah apakah ini cermin hidupku?
Apakah ini teguran bagiku yang melupakan nikmat yang telah engkau berikan setelah waktu itu?
Iyaa...waktu itu...!!!  saat itu...!!!
Waktu.. dimana semua impianku meredup seperti nyala api lilin yang semakin berkurang, tak ada semangat. Impian seorang anak muda yang seolah harus terhenti karena fonis penyakit yang selama ini tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Seketika membuat hidupku kosong tak tau arah.
Saat.. masa muda yang penuh keceriaan harus ku lalui dalam belenggu rumah sakit, obat, suntikan di sekujur tubuh, keluar masuk ruang radiologi.
Apakah ini caraMU mengingtkanku Ya Allah?
Mengingatkan betapa berharganya kesempatan setiap tarikan nafas yang telah engkau berikan setelah virus putus asa hampir memenuhi batinku seperti penyakit yang memenuhi ragaku.

Tapi dibalik itu semua aku sadar, inilah cerminku, cermin dimasa kelam yang membuatku sadar aku bukanlah apa-apa tanpaMU, inilah aku yang sekarang, aku dengan segala anugerah terindah yang telah Engkau berikan kepadaku. Aku mampu dengan segala kelemahanku, aku bisa dengan segala kekuranganku, aku tetap yakin dengan segala keterbatasanku karena aku tau Engkau selalu bersamaku. Engkaulah Sang Pemberi Nikmat di Alam Semesta ini

0 komentar:

Posting Komentar