Minggu, 11 November 2012
Boifuel
Biofuel adalah bahan
bakar terbarukan yang berasal dari mahluk hidup atau bagian mahluk
hidup, material biologi (biomassa). Biofuel dapat berbentuk padat
(solid), cair (liquid), atau gas dan dapat dimanfaatkan secara
langsung sebagai bahan bakar utama untuk pembangkit listrik dan
panas, atau sebagai bahan baku untuk menghasilkan bahan bakar atau
bahan kimia antara. Biomassa dapat diubah menjadi biofuel melalui
proses panas (thermal), kimia, biologi, atau fisika.
Seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 1, biofuel dapat berbentuk padat (solid),
cair (liquid), atau gas. Dalam setiap kelompok dapat dibagi lagi
menjadi beberapa tipe, dan dalam beberapa kasus terdapat interaksi
atau inter-prosessing dari tipe-tipe biofuel tersebut (Case, 2006).
Gambar 1. Pembagian
biofuel (Case, 2006)
Biofuel Padat
Pembakaran langsung
meliputi pembakaran biomassa langsung setelah diperlakukan terlebih
dahulu (pemisahan, pengeringan, pencacahan, dan lain-lain) hingga
layak untuk dibakar. Biofuel padat berupa biomassa yang dapat dibakar
(biocombustible) adalah salah satu bentuk biofuel yang paling tua,
seperti memasak dengan kayu bakar atau untuk memanaskan ruangan di
rumah Eropa. Sistem pembakaran yang lebih maju dapat memaksimalkan
produksi panas, uap/steam, dan listrik. Salah satu contoh pemanfaatan
biofuel padat adalah pemanfaatan cangkang dan fiber sawit untuk bahan
bakar boiler untuk menghasilkan uap/listrik.
Biofuel Cair
Bio-Oil
Bio-Oil adalah
kondensat cair berwarna hitam yang ini dibuat melalui proses proses
pirolisis thermo-kimia (Gambar 2). Bio-oil memiliki kandungan anergi
kurang lebih 17 MJ/kg atau
setengah dari
kandungan energi minyak bumi (39 MJ/kg), tetapi empat kali lebih
besar dari kayu, dan 15 kali lebih tinggi dari jerami. Bio-oil bebas
sulfur dan sangat rendah kandungan mineral dan nitrogen, sehingga
memungkinkan sebagai substitusi untuk bahan bakar fosil, atau (dengan
penambahan surfaktan) dapat dicampur dengan minyak bumi untuk bahan
bakar mesin.
Gambar 2. Proses
pirolisis untuk menghasilkan bio-oil.
Bio-oil telah
dimanfaatkan untuk bahan bakar boiler, dipretreatment dan
dimanfaatkan untuk turbin dan mesin diesel kecepatan -rendah dan
–medium untuk menghasilkan listrik. Penggunaan bio-oil perlu
memertimbangkan pH yang rendah, peningkatan viskositas sesuai
umurnya, stabilitas penyimpanan, dan kandungan padatan yang harus
rendah untuk menghindari kerusakan mesin.
Biodisel
Biodisel adalah
minyak bakar berwarna kuning yang diproduksi melalui proses reaksi
kimia antara minyak nabati atau lemak hewan dan metanol untuk
membentuk methyl ester. Biodisel dapat digunakan langsung untuk mesin
diesel atau dicampur dengan minyak solar dengan berbagai konsentrasi
(misal B5) untuk mengurangi emisi gas dan meningkatkan kemampuan
mesin.
Bioetanol
Bioetanol adalah
cairan berwarna jernih yang dibuat dengan cara merubah pati-patian
menjadi gula, kemudian difermentasi menghasilkan bioetanol,
didistilasi dan dehidrasi menghasilkan bahan bakar. Bioetanol adalah
salah satu biofuel cair yang paling banyak dimanfaatkan saat ini.
Bioetanol memiliki banyak manfaat salah satunya adalah dicampur
dengan bensin sebagai agen oksigenasi sehingga pembakaran menjadi
lebih bersih dengan emisi rendah.
Biogas
Paling tidak ada dua
macam biofuel berbentuk gas, yaitu biogas dan biosyngas. Keduanya
sangat berbeda dan dibuat melalui proses yang berbeda.
Biogas
Biogas dibuat
melalui digesti anaerob atau fermentasi bahan organik dalam kondisi
rendah oksigen. Gas dibakar untuk memproduksi panas, uap dan listrik,
atau digunakan secara langsung seperti untuk kendaraan berbahan bakar
biogas.
Melalui proses
digesti anaerob mikroba memecah bahan baku kaya karbon menjadi gas
yang mengandung kurang lebi 60% methane (CH4), 30% karbon dioksida
(CO2), dan 10% nitrogen(N2). Kandungan metan di dalam biogas
(kandungan kalor- 23NJ/Nm3) dapat dibakar untuk memproduksi panas dan
tenaga.
Syngas
Synthetic gas atau
lebih sering disingkat menjadi Syngas atau producer gas, adalah
intermediate yang dibuat melalui proses gasifikasi thermo-kimia
dimana suhu tinggi merubah material kaya karbon: seperti batubara,
minyak bumi, gas alam atau biomassa menjadi karbon monooksida (CO)
dan hydrogen (H2). Apabila bahan baku pembuatannya adalah batubara,
minyak bumi atau gas alam, maka disebut dengan Syngas. Sedangkan
apabila bahan baku utamanya adalah biomassa maka disebut dengan
Biosyngas. Biosyngas dapat langsung digunakan sebagai bahan bakar
atau sebagah bahan baku untuk reaksi kimia lainnya.
Kandungan energi
biosyngas kurang lebih 3 – 8 MJ/Nm3 (mega joules per normal meter
kubik), tetapi dapat mencapai 10 – 20 NJ/Nm3 jika menggunakan
oksigen murni digunakan dalam proses gasifikasi. Jika dalam proses
gasifiksi ditambahkan uap/steam, yang disebut ‘reforming’, gas
yang dihasilkan akan mengandung hydrogen dalam konsentrasi tinggi.
Gambar 3. Proses
sederhana gasifikasi untuk memproduksi biosyngas.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





2 komentar:
Ijin komentar gan_
Apa ijin share?
Ini dpet dri kuliah di kimia ya? Hehehe
Dishare jg boleh mas..
Ilmu clo diamalkan kn mlh brtambah
Posting Komentar